Dari : Situs Alfi

efek salju berjatuhan

Rabu, 18 September 2013

Cara meningkatkan daya ingat dan konsentrasi

Apakah anda sekarang merasa menjadi seorang yang pelupa atau kurang fokus? Atau sering dibilang “lemot” oleh rekan-rekan anda? Hal itu mungkin diakibatkan oleh daya ingat dan konsentrasi anda rendah. Banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi mudah lupa dan kurang fokus misalnya sering stress, faktor usia, faktor nutrisi, dan faktor eksternal lainnya seperti pengaruh lingkungan dan pendidikan.

Faktor usia biasanya menjadi faktor utama yang menyebabkan daya ingat dan konsentrasi menurun. Semakin bertambahnya usia secara otomatis akan menurunkan fungsi kerja otak sebagai pusat kontrol aktivitas alat indera. Itulah yang terjadi pada kebanyakan orang yang berusia lanjut.
Namun ternyata penyakit mudah lupa dan kurang konsentrasi juga banyak menghinggapi orang yang berusia muda dan tergolong usia produktif. Hal ini disebabkan terlalu banyak beban pikiran dan waktu istirahat yang tidak cukup. Selain itu asupan gizi yang baik untuk menunjang kinerja otak kurang terpenuhi dengan baik. Dan pengaruh pendidikan dalam keluarga yang menunjukkan rendahnya kepedulian orang tua terhadap cara meningkatkan perkembangan otak anak.
Pada orang yang di masa kecilnya kerap mendapat kekerasan dari orang-orang terdekat akan menimbulkan trauma mental yang berdampak pada terganggunya perkembangan emosional dan kecerdasan anak. Gangguan mental ini bisa berimbas pada rasa kurang percaya diri yang berlebihan sehingga sulit untuk mengembangkan diri sendiri.

Akan tetapi anda tidak perlu takut karena ada berbagai cara meningkatkan daya ingat dan konsentrasi antara lain yaitu :
1.    Konsumsi makanan yang kaya kandungan omega 3 pada ikan, susu, telur, sayur bayam, dan buah alpukat. asam lemak omega-3 dari dulu merupakan sahabat otak dan dipercaya meningkatkan kecerdasan.
2.    Minum teh atau kopi 1 gelas sehari pada siang atau pagi hari.
Menurut hasil penelitian Psikolog Lars Kuchinke dari Universitas Ruhr, Jerman terhadap 66 relawan menunjukkan bahwa mengkonsumsi kafein maksimum 2 cangkir kopi sehari akan mengarahkan orang ke respons yang lebih cepat dan lebih sedikit membuat kesalahan dalam tugas-tugas mental sederhana.
3.    Tidur pada siang hari sekitar 1-1,5 jam yang dianjurkan antara pukul 12.00 s.d 15.00. Tidur siang yang cukup dpercaya dapat meningkatkan kecerdasan otak.
4.  Melatih diri menghafalkan sesuatu sesering mungkin. Misalnya menghapalkan suatu kalimat penting atau janji penting tanpa bersuara keras. Kegiatan ini mungkin terlihat sepele, tapi jika dilakukan sesering mungkin akan melatih dan meningkatkan kemampuan otak.
5.    Sering-sering menonton acara komedi dan bergaul dengan orang yang humoris. Walaupun belum ada penelitian secara spesifik mengenai ini, tapi dipercaya aktivitas ini dapat membuat otak lebih rileks dan mudah merespons segala sesuatu.
Nah itulah beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk meningkatkan daya ingat dan konsentrasi. Mudah-mudahan dapat dijadikan pertimbangan untuk menjaga kualitas hidup anda. Lakukanlah mulai detik ini juga dan buktikan sendiri dampak positifnya.
 
Regards,

Rahasia Kesuksesan Orang Jepang

Jepang, sebuah negara maju dan sukses yang terletak di benua asia, kenapa mereka bisa sesukses itu? Berikut kiat-kiat yang mereka terapkan di kehidupan sehari-harinya :

Rahasia Kesuksesan Orang Jepang #1 : Senantiasa bekerja keras

Sebenarnya kerja keras bukan hal yang asing dalam kiat sukses dalam segala hal, karena dengan bekerja keras berarti kita telah bersungguh-sungguh dan serius. Tak sedikit orang yang telah berhasil karena senantiasa berkerja keras dan bersungguh-sungguh.

Rahasia Kesuksesan Orang Jepang #2 : Pantang Menyerah

Setelah kahancuran akibat PD yang kedua, negara jepang benar-benar hancur, namun mereka membuktikan bahwa mereka tidak pantang menyerah dengan menjadikan negaranya menjadi salah satu pusat ekonomi dunia dalam jangka waktu yang tidak lama.

Rahasia Kesuksesan Orang Jepang #3 : Menjaga Kehormatan

Rela mati demi kehormatan, itu menjadi pegangan hidup. Mending mati daripada harus hidup dengan menanggung rasa malu dan bersalah, maka dari itu ada yang namanya ritual harakiri (itu tuch… bunuh diri ala jepang) dan itu dilakukan karena mereka malu dengan kesalahan mereka sendiri dan patut untuk mendapatkan hal yang setimpal yakni dengan jiwa mereka sendiri. Maka dari itu, disaat mereka ingin tetap hidup mereka akan senantiasa menjaga kehormatan mereka sendiri.
Dalam pemerintahanpun demikian, tak sedikit dari mereka yang mengundurkan diri karena telah melakukan kesalahan bahkan ada yang sampai bunuh diri karena telah terlibat kasus korupsi. Disini bukannya ane menyarankan ente untuk bunuh diri karena telah melakukan sebuah kesalahan, namun paling tidak kita bisa ambil sisi baiknya dengan selalu intropeksi diri, dan hindari melakukan hal yang tidak baik.

Rahasia Kesuksesan Orang Jepang #4 : Rajin Membaca

Budaya membaca sudah jadi sarapan tiap hari disana, sambil tiduran, sedang dalam perjalanan, dalam kereta, dalam bus, ataupun sambil ngopi!
Sekarang ini sudah banyak media baca yang bisa kita manfaatkan, apalagi internet sudah menjamur di berbagai wilayah bahkan pelosok pun tak lepas dari jarahannya. Pintar-pintarlah memanfaatkan waktu, dikala luang kita bisa memanfaatkan untuk membaca, terserah ente mau baca apa (yang penting jangan membaca pikiran), koran bekas kemarin aja masih bisa ente baca, siapa tahu bisa dapat info yang bisa membuat ente kaya mendadak atau bisa dapat pekerjaan yang sudah lama ente idam-idamkan dan sebagainya.

Rahasia Kesuksesan Orang Jepang #5 : Menjaga Tradisi

Masa depan tidak akan ada tanpa masa lalu, dan masa depan bisa berkembang dengan mempelajari masa lalu. Ditengah teknologi yang kian marak, rakyat jepang tidak pernah meninggalkan tradisi nenek moyang mereka, selalu menjaga tradisi, jadi meski sudah berkembang dengan sangat maju mereka tetap tidak kehilangan identitas mereka sebenarnya.
Setelah membaca kiat diatas, seharusnya ente-ente bisa belajar dan menerapkannya. Rahasia Kesuksesan Orang Jepang.

Mengenal Peter Pan dan Cinderella Complex, The Fairy Tale Syndrome

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
  http://www.insidethemagic.net/wp-content/uploads/2011/03/Cinderella-Scarlett-Johansson-550x342.jpg
Ternyata tagline iklan ini bukan sekadar pemanis produk. Coba perhatikan lingkungan sekitar kita, ada berapa banyak orang yang tua secara usia biologis tapi masih bersikap kekanak-kanakan? Sikap kekanak-kanakan bisa muncul dalam bentuk tidak mau bertanggung jawab, tidak punya prinsip, atau takut menghadapi masa depan. Seorang teman (usia 24 tahun) pernah cerita pada saya, dia sangat khawatir tentang masa depan setelah lulus kuliah. Oleh karena itu, dia membuat keputusan dengan memperlama masa studi hingga tiga tahun lebih lama daripada waktu normal. Dia merasa belum siap memikul tanggung jawab jika harus segera lulus dan bekerja. Sayangnya, waktu tiga tahun tidak dia gunakan dengan baik. Aktivitasnya lebih banyak dihabiskan di kos dan dia pun menerima surat peringatan dari fakultas. What’s wrong with him?
Dalam dunia psikologi, ada dua sindrom yang terkait dengan kedewasaan, yaitu Peter Pan Complex dan Cinderella Complex. Keduanya memang terinspirasi dari dongeng Peter Pan dan Cinderella. Peter Pan, dalam kisah yang ditulis oleh James M. Barrie, adalah bocah lelaki yang selamanya menjadi anak-anak (baik fisik maupun psikologis). Sementara Cinderella adalah dongeng tentang gadis yang disiksa oleh ibu tirinya dan dia sangat mendambakan kehadiran penyelamat dalam wujud seorang pangeran tampan. Lalu bagaimana kondisi psikologis orang yang mengalami Peter Pan dan Cinderella Complex?
http://theredfoxanddeerlady.files.wordpress.com/2013/07/peter-pan-disney-32501933-1365-1024.jpg

Peter Pan (sumber gambar: isti-yoso.blogspot.com )
  Mari kita bahas Peter Pan Complex terlebih dahulu. Sindrom ini sebenarnya bisa menyerang pria dan wanita, tapi kasusnya lebih banyak terjadi pada pria dewasa. Peter Pan Complex adalah ketidakmampuan seseorang untuk tumbuh dewasa secara psikologis. Durand dan Barlow (Intisari Psikologi Abnormal, 2007) sedikit menyinggung Peter Pan Complex dalam kasus kepribadian. Menurut mereka, orang dengan sindrom tersebut memiliki hambatan untuk menjadi dewasa. Secara psikologis, kedewasaan ditandai dengan kemampuan mengambil keputusan, memahami identitas diri, bisa berempati, inisiatif, mandiri, berani bertanggung jawab, dan bisa mengontrol emosi.
Beberapa gejala utama sindrom ini seperti: sangat tergantung hingga hal-hal kecil pada orang lain/pasangan, emosi labil, daya juang sangat rendah, sulit berkomitmen, manipulatif, tidak bertanggung jawab dan tidak mau dikritik, dan terlalu mencintai diri sendiri. Perlu dicatat bahwa American Psychiatric Association (APA), selaku badan yang selama ini menjadi rujukan penentuan diagnosis gangguan kejiwaan di seluruh dunia, belum memasukkan Peter Pan Complex ke dalam klasifikasi gangguan mental. Jadi, gejala tersebut berdasarkan kasus-kasus yang selama ini dihadapi oleh para ahli kesehatan mental. Jika Anda menemukan kenalan yang memiliki gejala Peter Pan Complex, jangan langsung menjustifikasinya. Perlu diagnosis lebih dalam oleh Psikolog atau Psikiater. Pengetahuan tentang gejala berguna sebagai informasi awal untuk mengenal sindrom ini.
Sekarang kita beralih pada Cinderella Complex. Sama seperti dongeng Cinderella, wanita dengan sindrom ini takut mandiri dan sangat berharap ada sosok lelaki yang bisa melindunginya dalam semua hal. Mereka sangat mengharapkan kehidupan yang secure dan ideal seperti dalam dongeng. Gejalanya juga hampir sama dengan Peter Pan Complex. Wanita dengan Cinderella Complex amat sangat tergantung dengan pasangannya. Mereka inginnya hanya dilayani, atau dalam istilah psikologis disebut dengan conditional positive regard (cinta bersyarat).
Apa yang Menyebabkan Peter Pan dan Cinderella Complex?
Kedua sindrom tersebut akar masalahnya terjadi saat masa kanak-kanak. Faktor utama yang sangat berpengaruh adalah pola asuh orang tua. Baik Peter Pan dan Cinderella Complex bisa terjadi dari pola asuh yang terlalu permisif atau terlalu keras/otoriter. Anak yang terlalu dimanja, semua keinginannya terpenuhi, dan tak pernah belajar bertanggung jawab, cenderung tumbuh menjadi manusia yang tidak mandiri dan rapuh. Contoh sederhana saja misalnya saat anak melakukan kesalahan, kemudian orangtua menimpakan kesalahan pada benda-benda di sekitarnya. Pola seperti itu hanya akan memperkuat skema di pikiran anak kalau dia tidak pernah salah. Alangkah baiknya jika orang tua menjelaskan kesalahan anak dan bagaimana dia harus memperbaikinya.
Sebaliknya, anak yang tumbuh dengan kekerasakan (fisik dan psikologis) juga berpotensi mengalami Peter Pan dan Cinderella Complex. Trauma yang mereka alami menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan. Khusus pada wanita, pada saat inilah mereka berharap datangnya pangeran penyelamat. Hati-hati terhadap kasus bullying di dalam keluarga. Orang tua kadang tak sadar telah melakukan kekerasan verbal pada anak. Misalnya saja mengatakan anak “bodoh” saat nilai sekolahnya di bawah standar. Atau orang tua selalu membanding-bandingkan prestasi kakak dan adik di sekolah. Sikap seperti itu bisa menimbulkan rasa rendah diri dan tidak nyaman dalam diri si anak.
Sikap manja dan tidak mandiri membuat orang dengan Peter Pan/Cinderella Complex mencari pasangan yang mampu mengayominya. Biasanya, pasangan mereka secara usia jauh lebih tua. Mereka mengharapkan figur yang bisa memenuhi semua kebutuhan psikologisnya. Nah, masalah timbul kalau kedua orang dengan sindrom ini bertemu dan menikah. Seringkali karakter asli seseorang belum terlihat di masa pacaran. Setelah menikah, barulah mereka tahu kalau pasangannya masih kekanak-kanakan. Tidak jarang, pernikahan mereka berujung dengan perceraian.
Orang yang terlalu cepat berganti pasangan setelah putus cinta kemungkinan besar memiliki salah satu ciri Peter Pan/Cinderella Complex (bisa jadi punya pasangan baru hanya dalam rentang beberapa minggu setelah putus). Sikap tersebut menunjukkan sisi emosional yang berlebihan dan ketakutan untuk sendiri. Mereka cenderung sangat tergantung pada orang lain dan ingin mendapatkan perlindungan secara psikologis.
Adakah Upaya Preventif untuk Peter Pan dan Cinderella Complex?
Ada! Dan upaya itu harus dilakukan sejak usia dini. Peter Pan dan Cinderella Complex sejatinya merupakan karakter seseorang hasil dari pengasuhan yang keliru. Tanamkan kemandirian pada anak sejak dini, lalu berikan apresiasi atas prestasinya. Cara ini efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Kemandirian tidak harus dilakukan saat anak sudah beranjak remaja. Misalnya, anak usia 3 tahun bisa diajarkan mengembalikan dan merapikan sendiri mainannya. Semakin dini anak belajar, semakin lekat pula kebaikan dalam dirinya.
Berikan reward dan punishment yang seimbang. Agar anak tumbuh menjadi orang bertanggungjawab, maka mereka harus diajarkan berkomitmen terhadap pilihannya. Secara psikologis, komitmen sudah bisa diajarkan sejak usia 5-6 tahun. Pada usia ini, anak biasanya mulai tertarik pada satu hal, yang bisa berkembang menjadi hobi. Berikan pujian untuk setiap tahap perkembangan yang dilalui anak. Tapi jika mereka melakukan kesalahan, berikan teguran. Ingat, hukuman tidak harus dalam bentuk kekerasan.
Ajarkan anak untuk menghadapi realita hidup. Tidak semua permintaan anak harus dipenuhi. Jika orang tua memang sedang tidak memiliki uang, berikan penjelasan kalau permintaannya bisa dipenuhi di lain waktu. Biarkan anak belajar menghadapi masalahnya. Contoh sederhana ketika misalnya anak mengerjakan tugas keterampilan dari sekolah. Biarkan anak mengerjakan semampunya, meskipun hasilnya (menurut orang dewasa) tak sebagus jika dibuat oleh orang tuanya. Dulu saat saya masih SD, banyak hasil keterampilan teman yang dibuatkan oleh kakak atau orangtuanya. Soalnya tugas itu memang dikerjakan di rumah.
Nah ini hal paling penting, pola pengasuhan dari orang tua harus konsisten. Maksudnya, saat ayah berkata A, ibu pun sebaiknya berkata A. Seringkali anak menangkap nilai dan pengasuhan berbeda dari ayah ibunya. Misalnya, ayah melarang anak untuk mencontek saat ujian, sementara ibu membiarkan saja dengan alasan si anak belum sempat belajar di rumah. Pertentangan nilai seperti ini bisa berdampak serius pada perkembangan psikologis anak. Mereka tumbuh menjadi manusia yang bingung dan tak punya prinsip. Ujung-ujungnya, ketika dewasa, mereka tak berani memutuskan sendiri nasibnya.
Jadi, dewasa itu memang sebuah pilihan kan?

Referensi Buku:
Durand, V. Mark dan David Barlow. 2007. Intisari Psikologi Abnormal (Penerjemah: Helly P. Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
.